Oleh : M. Takzim Amr,SE.
Menyimak pesta demokrasi (meminjam istilah umum) yang telah usai di tingkat kabupaten Lombok Timur dan provinsi Nusa Tenggara Barat, seolah menyibak tirai rasionalitas yang menyelimuti nisbi kemanusiaan kita. Kemenangan yang diraih begitu fenomenal, layak disebut demikian karena kemunculan 2 pasang pemimpin di kedua level birokrasi ini memiliki pengantar berupa selaput keraguan yang merupakan kristalisasi “keluguan masyarakat” dalam memahami jebakan dikotomi antara ULAMA dan POLITIK. Diusung PBB dan PKS, dalam kepungan partai-partai besar seperti PDIP dan GOLKAR dan dilengkapi keroyokan partai-partai Gurem yang mendompleng, adalah sebuah gambaran betapa berat perjuangan menuju sebuah kemenangan.
Kehadiran SUFI di Lotim dan BARU di NTB yang diasumsikan representasi Ulama seolah menyodorkan realita dari sebuah rotasi sejarah kepemimpinan ulama dalam pemerintahan yang sebelumnya pernah ada dalam penggalan sejarah peradaban manusia.
Dan akhirnya kita tersadar, benteng semboyan “politik itu kotor” dalam asumsi publik di ranah politik kini telah mencapai titik tertinggi dari grafik sejarah, dan tidak ada arah lain selain menurun, menggelontorkan pencerahan dengan persepsi baru dalam memaknai kembali istilah “politik”. Di ujungnya, menyeruak wacana kepemimpinan ulama yang dianggap utopis, kemudian menemukan bentuk awalnya untuk berusaha menemukan kembali benang merahnya kepada sejarah “indahnya” kepemimpinan dalam pemerintahan Islam yang bermula pada masa Rasulullah SAW, khulafaurrasyidin hingga Khilafah Utsmaniyah. Sejarah….sejarah…dan sejarah, itulah konsekuensi manusia hidup, yakni membuat sejarah.
Ada satu pertanyaan yang mengusik di benak, ketika menelusuri jejak-jejak kemenangan SUFI dan BARU dalam lembaran hari-hari gegap gempita perjuangannya, yakni “Kemenangan ini milik NW atau PKS ?”. Menyebut keduanya, Nahdlatul Wathan (NW) sebagai ormas dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai parpol tidak bisa dipisahkan menjadi pemeran utama dibalik kisah kemenangan ini. Sinergi yang menjelma menjadi kekuatan tak terbendung, melumat habis keraguan politik masyarakat di segenap tingkat, dari akar rumput (minjam istilah lagi nih) hingga ke mereka yang menyebut dirinya kepinteran (intelektual maksudnya). Sekali lagi….Sinergi yang mempesona, NW (ormas) dengan modal massa berlimpah dan PKS (Parpol) menggeliat menjadi mesin kampanye yang efektif. Dua pesona yang bersenyawa, membaur menerobos nurani masyarakat yang sedang dihipnotis gelora godaan dunia di sekitar mereka.
Jika boleh mengurai kisah perjuangan PILKADA ini, maka PKS adalah bintangnya…laksana Ronaldinho di Barcelona dalam dunia sepak bola. Sesungguhnya, kemenangan ini bukan hanya jawaban dari tengadah tangan do’a penuh harap, linangan air mata bersimbah dalam sujud qiyamullail, asa kemaslahatan dari ribuan qalbu yang terzalimi selama ini, tetapi lebih dari itu, semua ini adalah apresiasi Allah sebagai buah dari perjuangan keras dan cerdas kader-kader PKS. Setiap pintu rumah diketuk untuk menyampaikan betapa pentingnya partispasi dan pilihan tiap orang. Tidak perduli pintu dan pemiliknya kompak untuk menolak. “Kebenaran harus disampaikan” adalah moto yang mereka usung untuk melengkapi modal senyum dan stiker yang disodorkan dengan santun.
Akhirnya…ini kemenangan NW atau PKS ? Ah, tak perlu terjebak untuk memikirkan jawabannya…karena ini bukan pertanyaan untuk dijawab melainkan untuk disyukuri.
Wallahu’alam….
Menyimak pesta demokrasi (meminjam istilah umum) yang telah usai di tingkat kabupaten Lombok Timur dan provinsi Nusa Tenggara Barat, seolah menyibak tirai rasionalitas yang menyelimuti nisbi kemanusiaan kita. Kemenangan yang diraih begitu fenomenal, layak disebut demikian karena kemunculan 2 pasang pemimpin di kedua level birokrasi ini memiliki pengantar berupa selaput keraguan yang merupakan kristalisasi “keluguan masyarakat” dalam memahami jebakan dikotomi antara ULAMA dan POLITIK. Diusung PBB dan PKS, dalam kepungan partai-partai besar seperti PDIP dan GOLKAR dan dilengkapi keroyokan partai-partai Gurem yang mendompleng, adalah sebuah gambaran betapa berat perjuangan menuju sebuah kemenangan.Kehadiran SUFI di Lotim dan BARU di NTB yang diasumsikan representasi Ulama seolah menyodorkan realita dari sebuah rotasi sejarah kepemimpinan ulama dalam pemerintahan yang sebelumnya pernah ada dalam penggalan sejarah peradaban manusia.
Dan akhirnya kita tersadar, benteng semboyan “politik itu kotor” dalam asumsi publik di ranah politik kini telah mencapai titik tertinggi dari grafik sejarah, dan tidak ada arah lain selain menurun, menggelontorkan pencerahan dengan persepsi baru dalam memaknai kembali istilah “politik”. Di ujungnya, menyeruak wacana kepemimpinan ulama yang dianggap utopis, kemudian menemukan bentuk awalnya untuk berusaha menemukan kembali benang merahnya kepada sejarah “indahnya” kepemimpinan dalam pemerintahan Islam yang bermula pada masa Rasulullah SAW, khulafaurrasyidin hingga Khilafah Utsmaniyah. Sejarah….sejarah…dan sejarah, itulah konsekuensi manusia hidup, yakni membuat sejarah.
Ada satu pertanyaan yang mengusik di benak, ketika menelusuri jejak-jejak kemenangan SUFI dan BARU dalam lembaran hari-hari gegap gempita perjuangannya, yakni “Kemenangan ini milik NW atau PKS ?”. Menyebut keduanya, Nahdlatul Wathan (NW) sebagai ormas dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai parpol tidak bisa dipisahkan menjadi pemeran utama dibalik kisah kemenangan ini. Sinergi yang menjelma menjadi kekuatan tak terbendung, melumat habis keraguan politik masyarakat di segenap tingkat, dari akar rumput (minjam istilah lagi nih) hingga ke mereka yang menyebut dirinya kepinteran (intelektual maksudnya). Sekali lagi….Sinergi yang mempesona, NW (ormas) dengan modal massa berlimpah dan PKS (Parpol) menggeliat menjadi mesin kampanye yang efektif. Dua pesona yang bersenyawa, membaur menerobos nurani masyarakat yang sedang dihipnotis gelora godaan dunia di sekitar mereka.
Jika boleh mengurai kisah perjuangan PILKADA ini, maka PKS adalah bintangnya…laksana Ronaldinho di Barcelona dalam dunia sepak bola. Sesungguhnya, kemenangan ini bukan hanya jawaban dari tengadah tangan do’a penuh harap, linangan air mata bersimbah dalam sujud qiyamullail, asa kemaslahatan dari ribuan qalbu yang terzalimi selama ini, tetapi lebih dari itu, semua ini adalah apresiasi Allah sebagai buah dari perjuangan keras dan cerdas kader-kader PKS. Setiap pintu rumah diketuk untuk menyampaikan betapa pentingnya partispasi dan pilihan tiap orang. Tidak perduli pintu dan pemiliknya kompak untuk menolak. “Kebenaran harus disampaikan” adalah moto yang mereka usung untuk melengkapi modal senyum dan stiker yang disodorkan dengan santun.
Akhirnya…ini kemenangan NW atau PKS ? Ah, tak perlu terjebak untuk memikirkan jawabannya…karena ini bukan pertanyaan untuk dijawab melainkan untuk disyukuri.
Wallahu’alam….
